flashfiction
Matanya melotot sesaat sebelum nyawanya meregang. Oh, maafkan. Hanya sekelebat aku melihat ratapan mengiba, minta tolong. Tapi sepenuhnya, yang kulihat adalah tiga senyum mengembang.

**
Matahari pukul dua siang masih menyengat, membuat banyak orang enggan beraktivitas di luar rumah. Mereka lebih nyaman menghadap kipas angin sembari menonton film India di tv swasta. Lain halnya dengan bocah enam tahun itu. Namanya Seno. Rumahnya hanya berjarak seratus meter dari tempat tinggalku. Ia terlihat mondar-mandir di depan warung kopi milikku. Tangan kanannya menyeret truk mainan yang diikat tali. Mulutnya tak henti menirukan suara deru kendaraan. Breeemm..bremmm…ngguuuiingg. Diiinnnn…diiiinnnnn. Dia menatapku. Mulutnya bergerak dengan suara yang tak jelas. Seno memang mengalami ketidaksempurnaan dalam berbicara. Sebagai tetangga yang mengetahui keadaannya sejak lama, tak susah memahami apa yang menjadi maksudnya. Kujawab dengan isyarat dua telapak tangan telungkup dan kepala dimiringkan. Dia mengangguk lalu berlalu sambil menyeret truknya. Aku melanjutkan merapikan baju-baju kering yang masih berantakan. Tiga anakku —Mita, Rama dan Juna— tampak pulas tidur siang. Satu jam lalu, mereka masih merengek minta ayam krispi. Pusing aku dibuatnya. Warung kopi milikku sedang sepi akhir-akhir ini. Sejak dibangun kedai kopi waralaba di sudut jalan, pemuda yang biasa menikmati kopi di sini pindah teratur. Mungkin karena di sana terlihat lebih gaya. Lebih mentereng. Jelas saja, harga segelas kopi di sana kan tiga kali lipat kopiku. 

Pikiranku melayang tiga tahun silam, sesaat sebelum kuputuskan membangun warung kopi seadanya di teras rumah. Suamiku meninggal saat ia bekerja. Kata orang angin duduk, tapi kata dokter sakit jantung. Aku tak begitu peduli apa nama penyakit yang merenggut nyawanya. Yang ada di pikiranku saat itu adalah bagaimana aku menghidupi ketiga anakku yang masih kecil-kecil? Mita, si sulung saat itu baru berusia tiga tahun. Rama masih satu setengah tahun dan Juna baru empat bulan. Bermodalkan tabungan seadanya dan pinjaman sana-sini maka kubuat warung kopi di rumahku. Ba’da magrib sampai pukul sebelas warungku melayani mereka yang ingin menyeruput kopi hitam, mengudap pisang goreng atau menyantap mi instan pedas. Tangan terampilku siap untuk meracik dengan segera. Semua demi menghidupi anak-anakku. Bantuan dari saudara tak selamanya bisa kuandalkan. 

Aku menghela nafas. Betapa sekarang pengunjung warung kopi ini menurun drastis. Hanya tersisa beberapa orang tua yang masih setia berkunjung. Tak ada lagi pemuda-pemuda pembawa cerita humor tentang pejabat korup, berita artis selingkuh atau kisah cinta mereka sendiri. Orang-orang tua yang tersisa hanya membawa keluhan mengenai istrinya yang cerewet, anak gadisnya yang berubah jadi pemberontak atau keluhan hutang yang tak kunjung lunas. Cerita-cerita semacam itu hanya membuat kepalaku pening. Sama sekali tak menghiburku. 

Pakaian kering selesai kulipat. Suara Seno masih terdengar. Breemmm…breemmmm. Nguing..nguinggg. Sejenak hatiku gundah. Aku berkali-kali menatap wajah ketiga bocah polos di kasur. Sudah hampir dua bulan ini warung kopi sepi, sementara kebutuhan mereka tak bisa lagi ditunda.

Ambillah barang segayung kelapa dari yang segar. Kau tahu kan, ukuran segar? Sebelum lepas suci!

Kalimat yang menyembur dari Ki Setyo masih terngiang di kepala. Berputar-putar, meneriakkan kata ‘jangan’ dan ‘lakukan’ bergantian. Seolah ada yang sedang bertengkar dan menjadikan kepalaku ini ring tinjunya. Demi apapun yang memudahkan jalanku, tolonglah! Mataku sekali lagi menatap wajah polos berjejer di depanku. “Demi kalian..” rintihku sambil meraih sebilah pisau. Tanganku berguncang hebat.

**

Tanganku terampil melayani pembeli. Sejak dua hari lalu, aku terpaksa mengajak Lani —tetanggaku, untuk membantuku berjualan. Walaupun di sudut jalan masih bertengger gagah kedai kopi waralaba itu, tapi warung kopi milikku tak pernah surut pengunjung. Lani dengan sigap mencatat pesanan pemuda yang baru datang, sementara aku sibuk menyeduh beberapa cangkir kopi kental sekaligus. 

“Jadi belum ada berita tentang hilangnya Seno, Kang? Sudah lenyap dua hari dan masih nihil..” Seorang bapak berpeci berbicara dengan kawannya. 

“Tak ada tanda-tanda, Wak. Misterius sekali..” Si Kawan menanggapi sembari menyeruput.

Percakapan yang terdengar membuatku terkesiap. Kuatur nafas yang sempat berantakan. Setetes peluh dingin dengan sigap kuhentikan lajunya. Aku mengatur senyum wajar. Yahh, setidaknya Seno telah membantu menghidupkan warungku lagi. 

Based on fiksimini @zupermac :
http://zupermac.tumblr.com/post/70178599183/warung-kopi-cangkir-kopi-ini-sudah-ku-cuci-bersih

Advertisements