Selama kulihat engkau senang, yang lainnya kusimpan sendiri

…,

#DearA
Ditemani senandung milik Tulus,  aku duduk di tempat kita terakhir kali bertemu, 38880 menit yang lalu. Memesan menu yang sama, di meja yang juga dulu menjadi teman bisu malam itu. Lima menit setelah makanan datang, aku memutar ulang bagian-bagian perjumpaan yang menyenangkan di kepala, sembari membaca skenario percakapan yang serta-merta melahirkan senyum. Aku merogoh tas, mengeluarkan makanan favoritmu. Sebuah cokelat Belgia dengan kacang almon. Kamu suka?
Tunggu.
Jangan tersenyum dulu. Aku tahu itu reaksi pertamamu –disembunyikan atau terang-terangan, tapi izinkan aku dulu untuk membanyangkan reaksi setelahnya. Kau penyuka segala jenis cokelat, dan aku penggemarmu-saat-kau-makan-cokelat. Pipimu yang ranum akan bergerak simetris, dengan pola yang tak teratur. Kadang aku membayangkan jika kau ada di Negeri Dongeng, bisa dipastikan kau adalah seekor kelinci paling diminati buaya-buaya pemakan pipi. Khayalanku absurd memang, tapi itu membahagiakan. Hmm, tidak termasuk bagian saat buaya menerkam pipimu, tentu saja.
Dear A, 

Aku akan terus mengunjungi tempat bersama secara berkala. Menjumput sisa-sisa cerita di sana yang cukup tak cukup dipaksa untuk menambal renjana. 

Pertemuan-pertemuan yang tak kunjung tiba, dan ingatan yang meminta kenangan memang serta merta melahirkan mendung di dada. Tapi bukan juga harus memaksa jika memang belum waktunya. Di sini, dengan sisa kenangan yang masih bisa diputar, dengan segala jenis cokelat yang kubawa, aku akan terus melihatmu tersenyum. Senyum yang melahirkan bahagia; bukan hanya untukmu sendiri, tapi juga bagi yang melihatnya.

Advertisements