Setelah melalui tahun 2015 yang buruk, saya mengawali tahun ini dengan terseok-seok. Perlu empat bulan sebelum akhirnya saya bisa mengenali diri saya lagi. Sebelum itu, saya seolah menjadi bekicot dalam tempurung. Mau dibuka atau ditutup tempurungnya, lajunya tetap lambat karena tak ada semangat.

Jadi, apa yang bisa membuat saya bersemangat lagi? Jawabannya adalah olahraga. 

Saya bukan seseorang yang gemar berolahraga sebenarnya. Bahkan  sejak bangku sekolah dasar, pelajaran olahraga bukan favorit saya. Saya punya alasan kenapa saya berolahraga; karena saya bosan punya badan yang tidak menarik. Sebenarnya itu alasan kesekian sih. Alasan sebenarnya nanti lah ditulis di sini. Haha.

Olahraga menjadi penyelamat saya tahun ini. Bukan hanya sekadar mendapatkan kembali angka timbangan yang sebelumnya condong ke kanan, tapi juga punya banyak teman baru yang saling memotivasi. Selain teman dari komunitas lari dan freeletics, 2016 juga memberikan saya 6 orang karib yang akhirnya kami sepakat menyebut PSSS. 


Oh iya, tahun 2016 juga saya berhasil mengalahkan rasa penasaran akan kompetisi di bidang olahraga. Lari, pilihannya. Saya yang bukan penggemar olahraga akhirnya merasakan kentalnya rasa bersaing, walaupun di sini saya lebih merasakan bersaing dengan diri sendiri. 
Apapun yang saya lalui di 2016, saya merasa perlu menepuk bahu saya, memberikan pelukan pada diri sendiri dan berbisik, “Terima kasih untuk bangkit, Moe”



Advertisements