Dear A,

Kali ini, kau akan kuajak berhitung sebentar. Sebuah mata pelajaran yang tak asing untuk kita berdua. Ada seribu empat ratus empat puluh menit dalam sehari. Kau bisa kalikan dengan apapun –bisa jumlah bintang di langit yang bergantung setiap malam menjalang tidur, atau jumlah detakan jantung setiap detik. Kau bisa lakukan semuanya untuk mendapatkan hasil sejumlah angka yang berderet panjang untuk sekadar menemukan jawaban sederhana : aku merindukanmu sebanyak itu dalam satu tarikan nafas. 

Beberapa kali aku terlalu lemah untuk menahan untuk tidak mengatakannya. Sejumlah yang sampai padamu, belum ada lima persen dari keseluruhan. Dan, sejumlah itu pula lah yang telah membuatmu jengah. 

Sudah rindu lagi?” Katamu suatu waktu.

Iya.

 Akulah lelaki yang lemah oleh rindu. Lelaki yang selalu merindumu, bahkan saat punggungmu belum lepas dari mataku.

Advertisements