Masih di bulan Syawal, ucapan maaf dan memaafkan masih sering kita terima. Tampak mudah ya, tinggal, “maafin gue ya..” atau “sori ya bro, kalo ada salah-salah kemarin”. Meminta maaf –walaupun untuk sebagian orang menjadi hal yang susah– mungkin lebih mudah daripada memaafkan. Kenapa? Mungkin kita masih harus lebih banyak belajar ilmu ikhlas untuk bisa menjawab. 

Memaafkan diri sendiri, termasuk dalam hal yang disadari atau tidak,  terkadang susah dilakukan. Dampaknya juga tak pernah disadari. Susah move on, salah satunya. Kenapa susah untuk memaafkan diri sendiri? Karena kita selalu ‘menyepelekan’ diri sendiri. Alih-alih membuat janji atau wacana sendiri, tapi dipatahkan hanya karena “alahh gampang lah besok aja gapapa”. Kita lebih merasa tak enak jika hal-hal yang direncanakan –dan batal– berkaitan dengan orang lain. Takut si teman marah lah, takut ini dan takut itu. Sedangkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan diri sendiri, kita dengan mudahnya melanggar. Mungkin kita hanya perlu membiasakan bahwa diri kita juga butuh apresiasi. Memberikan hadiah kecil untuk pencapaian tertentu, misalnya. Atau yang masih hangat; memaafkan diri sendiri atas khilaf atau target yang tak tercapai. Atas tindakan di luar kontrol yang menyebabkan orang lain kecewa, atau atas hal-hal kecil yang membuat diri sendiri merasa gagal. 
Kalau bisa memaafkan kesalahan orang lain, harusnya kita bisa memaafkan diri sendiri. Karena sesuatu harusnya berawal dari kita, kan?

Advertisements