Bright Your Own Days

Sudah bulan November, tak terasa. Pandemi di Indonesia masih belum nampak akan segera berakhir tapi orang-orang banyak yang makin acuh dengan keadaan. Alasan ‘ngga apa-apa kok kita keluar asalkan masih pakai masker‘ sering sekali dipakai untuk pembenaran kegiatan-kegiatan yang seharusnya masih harus diminimalkan.

Berita-berita negatif tentang COVID-19 yang tak kunjung reda, ditambah dengan keterbatasan gerak mau nggak mau menjadikan beban tersendiri pada diri kita. Khawatir berlebih, parnoan –kalau kata orang– menjadi hal-hal yang ditemui di sekitar. Bahkan, harus diakui bahwa kita juga mengalaminya.

Trus, gimana dong biar ngga kepikiran?

Kita nggak bisa mengontrol orang lain, jadi yang dilakukan adalah membuat diri kita sendiri ada di dalam kontrol. Batasi pergerakan, batasi circle, buat pilihan yang lebih minim risiko dan tentunya sadar dalam melakukan sesuatu. Semenggiurkan apapun piknik saat pandemi, lebih (ny)aman tetap ada di rumah. Ngga semua orang punya tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga jarak, tidak menurunkan masker saat ngobrol dan menggantinya per 4 jam, dan lainnya. Jadi, daripada merugikan diri sendiri dan lingkungan, akan lebih bijaksana kalau kita tetap di rumah.

Nggak gila aja saat pandemi gini tuh udah bersyukur. Nggak usah mikirin nambah skill.

Kutipan itu pernah kubaca di Twitter karena sempat melintas di linimasa. Aku ngga sepenuhnya setuju. Memang, nggak ada paksaan bahwa selama pandemi ini kita harus bisa ini itu, harus punya skill baru dan lainnya, nggak. Tapi, justru karena keterbatasan pergerakan di luar yang ‘memaksa’ kita untuk –mau nggak mau– memaksimalkan skill yang dipunya. Ah aku nggak punya skill apa-apa. Yakin? Mungkin kamu nggak pernah sadar kalau ada bakat dan ketertarikan terhadap sesuatu yang selama ini sering diabaikan. Pandemi nggak menuntut kita punya skill tapi justru mengeluarkan skill yang selama ini ngga disadari. Dan karena manusia dikaruniai akal dan kemampuan berpikir jadi kupikir sih ‘ngga jadi gila selama pandemi‘ justru karena kita belajar bukan pasrah dengan keadaan.

Aku nggak akan bertanya, “Sudah nambah skill apa kamu selama pandemi?” tapi aku akan dengan senang hati mendengar cerita kalian yang selama pandemi punya pengalaman baru. Mau berbagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s