Pendengar yang Baik

Kita berusaha untuk menjadi pendengar yang baik untuk orang lain. Tapi seringkali –bahkan tanpa sadar– tak melakukannya untuk diri sendiri

Menjadi pendengar apalagi dengan embel-embel “yang baik” tidak semudah menjadi pendongeng. Banyak orang masih gagal meredam egonya untuk tidak menyela pembicaraan, membandingkan dengan kisahnya atau malah menyudutkan teman yang sedang bercerita dengan “Ah cuma kayak gitu aja. Kalau aku sih..”

Menjadi pendengar yang baik tidak hanya memakai dua indera pendengaran, tapi lebih jauh ke dalam. Dengan hati.

Bagaimana dengan menjadi pendengar yang baik untuk diri sendiri? Tidak kah itu juga penting? Ya. Kita seringkali bersikap keras, tidak begitu peduli atau sekaligus lemah dengan urusan diri sendiri. Ada hal-hal yang harusnya bisa diomongin sekaligus didengar tapi kita memilih untuk mengabaikan. Efeknya justru akan memperparah keadaan.

Sambil belajar untuk menjadi pendengar yang baik untuk orang lain, kita juga bisa belajar untuk diri sendiri. Pilih waktu tenang yang cocok buatmu; bisa waktu subuh atau menjelang tidur.

Mendengarkan diri sendiri adalah tindakan memeluk dan mengenali diri sendiri

Karena dari diri sendiri lah segalanya bisa berjalan. Hubungan antar manusia, pekerjaan, bahkan komunikasi dengan Tuhan juga akan baik-baik saja kalau kita jauh lebih mengenal dan memulainya dari diri sendiri.

Yok bisa yok!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s